Nasional

TPFR: Kedatangan Densus Buat Masyarakat Bima Alami Gangguan Psikis

masjid_bima

masjid_bima




TIM Pencari Fakta dan Rehabilitasi (TPFR) Bima menyatakan dari hasil laporan investigasi tahap pertama, sebagian masyarakat Bima mengalami traumatis psikis dan terintimidasi atas aksi Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror di Bima, Nusa Tenggara Barat.

“Selama ini Densus 88 melakukan justifikasi secara sepihak atas keterlibatan beberapa masyarakat Bima, termasuk kasus tembak di tempat para terduga terorisme,” kata ketua TPFR Bima, Hadi Santoso dalam keterangan persnya di Jakarta, Ahad (13/1/2013).

Baca Juga :





Tindakan asal tembak itu menimpa Bachtiar Abdullah (35), warga Bima yang ditembak mati polisi karena dituding sebagai teroris dan memiliki keterkaitan dengan jaringan Poso.

“Justru saya pertanyakan apa salah suami saya sehingga dibunuh seperti itu.  Dasarnya apa Densus tembak mati suami saya,” tanya Nuraini, istri Bachtiar, setelah suaminya meregang nyawa.

Nuraini merasa ada yang janggal dengan alasan Polisi bahwa suaminya merupakan salah satu pelaku jaringan Poso. “Suami saya tidak pernah keluar daerah sehari pun. Setiap harinya tetap ada di rumah,” ungkapnya.

Pagi harinya pergi jualan kue, sore harinya main sama anak-anak. Bila sudah waktu sholat, pergi sholat ke mesjid. Pernyataan Polri yang menyebutkan Bachtiar, digerebek seusai turun dari camp pelatihan, amat janggal.

“Camp pelatihan dimana. Sejak kapan suami saya ikut pelatihan di camp. Siangnya, suami saya masih ada di rumah. Coba suami saya pernah tidak ada di rumah barang sehari, bisa saja dituduh seperti itu,” bantahnya.

Meski keberatan atas penembakan terhadap suaminya, namun Nuraini mengaku tidak akan mencari keadilan melalui jalur hukum. “Kami tidak akan menuntut, biarlah Allah yang menghukum Densus,” timpalnya. (Pz/Islampos)

 





loading...
3 Comments

3 Comments

  1. titokpriastomo

    January 16, 2013 at 9:27 am

    densus 88 al-irhabiy memang sekelompok penteror.
    Pihak yg ada di belakang mereka akan terus menghidupkan isu terorisme dengan memunculkan tokoh dan peristiwa dengan -minimal- dua motiv:
    1. memberi citra-buruk terhadap aktivis Islam, terutama mereka yg menhendaki penerapan islam secara sempurna
    2. mencari makan, karena mereka hidup mereka bergantung pada kelestarian isu terorisme ini

  2. bien hau

    January 22, 2013 at 9:07 pm

    amin ya Allah, hancurkanlah para Islamofobia di Indonesia spt JIL, Syiah, Ahmadiyah, NII, Kristen dan non muslim radikal, ateis anti agama, komunis, sekuleris, dan para sponsornya. jadikanlah kehidupan mereka berantakan, kesehatan mereka menurun, ekonomi mereka memburuk, dan neraka jahannam sbg rumah abadi mereka di alam sana. amin Allahumma Amin.

  3. abusyaif

    March 1, 2013 at 1:46 pm

    memang sejak indonesia “merdeka” bekas BABU-BABU kompeni belanda msh banyak yg hidup beranak pinak sampai sekarang dan tentunya tdk ridho sedikitpun kalo kebijakan atau aturan negara dlm nafas syariah maklum majikan mereka kan kaum kafrut alias kafirun jd wajar perilaku mereka smp detik ini pun sama persis dengan “ekstrimis2” yg melawan voc pd saat itu……lalu siapa kita pd saat ini? masuk kelommpok BABU2 PENJAJAH TD APA MASUK PEJUANG FI SABILILLAH?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top
Si prega di attivare i Javascript! / Please turn on Javascript!

Javaskripta ko calu karem! / Bitte schalten Sie Javascript!

S'il vous plaît activer Javascript! / Por favor, active Javascript!

Qing dakai JavaScript! / Qing dakai JavaScript!

Пожалуйста включите JavaScript! / Silakan aktifkan Javascript!