Oleh : Widya
Founder Bandung Storytellingclub
INTERNATIONAL Children’s Book Day (ICBD) diperingati setiap Tanggal 2 April. Tanggal 2 April dipilih, mengingat bahwa hari tersebut adalah hari kelahiran sastrawan muda Hans Christian Andersen, penulis banyak cerita anak-anak yang terkenal, seperti The Little Mermaid dan The Ugly Duckling.
Harapannya tentu agar semakin banyak anak-anak yang mencintai dunia literasi serta menarik minat membaca pada anak sedini mungkin.
BACA JUGA: Hati-hati, Ini Waktu Terlarang Membaca Al-Quran
Di masa sekarang, disaat para orang tua berebut pengaruh terhadap anak dengan gadget,televisi dan lain sebagainya. Pendidikan literasi justru semakin gencar dilakukan oleh para praktisi pendidikan untuk mencetak individu yang tidak hanya cerdas dalam bidang akademik, namun juga memiliki pola pikir kritis dan logis.
Praktiknya tentu saja tidak harus terpaku pada pembelajaran di sekolah. Orang tua di rumah pun perlu mengambil peran dalam menanamkan pendidikan literasi pada anak-anak mereka mulai dari usia prasekolah.
Tujuan utamanya ialah tidak hanya menekankan pada kemampuan membaca dan menulis anak tapi juga membentuk generasi yang mampu berpikir kritis dalam menyikapi informasi. Khusus untuk anak usia dini atau prasekolah, pendidikan literasi penting dilakukan karena memiliki banyak manfaat.
Di antaranya ialah berkenalan dengan kosakata, membuat otaknya aktif, melatih imajinasi anak, serta menciptakan hubungan yang baik antara orang tua dan anak. Pilihan buku anak saat ini pun begitu beragam. Dari mulai cerita dongeng dari antah-berantah sampai buku-buku edukatif yang dikemas menarik bagi anak.
Namun apakah kita mengetahui, jauh sebelum hari buku anak sedunia ini ditetapkan sehingga muncul anjuran untuk mengambil buku dan membacanya, Islam telah lebih dulu menerapkan dan menganjurkan kita untuk membaca. Bahkan perintah membaca ini ada didalam kalam Allah sebagai wahyu pertama yang diturunkan pada Rasulullah SAW. Ialah Q. S Al-'Alaq ayat 1-5 yang artinya:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS:Al-‘Alaq | Ayat: 1-5).
Wahyu pertama ini layak menjadi renungan dan dikaji maknanya lebih dalam. Alquran terdiri dari 77.000 kata lebih. Dari sejumlah kata tersebut, Allah SWT pilih kalimat “Iqra” (bacalah!) menjadi kalimat pertama yang diturunkan sebagai wahyu bagi Rasul Muhammad SAW.
Mengapa?
Padahal Rasulullah SAW tidak bisa membaca dan menulis. Keistimewaan figur beliau adalah akhlak yang mulia. Jika Allah menghendaki, Rasulullah SAW bisa menyampaikan wahyu pertamanya tentang contoh-contoh akhlak mulia yang beliau miliki. Bukan malah sesuatu yang tak mampu beliau lakukan.
Hal ini mengindikasikan bahwa permulaan membangun umat ini adalah dengan ilmu dan salah satu metode yang dituntunkan oleh Rabb kita untuk memperoleh ilmu adalah dengan membaca.
BACA JUGA: Pahala Bacaan Quran Dihadiahkan, Bolehkah?
Al- Qur`an merupakan petunjuk bagi seluruh manusia, artinya semua yang disampaikannya merupakan pesan dan nasihat-nasihat sehingga menjadi suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam membentuk pribadi manusia dari zaman dahulu kala hingga sekarang.
Di antara metode al-Qur’an dalam menyampaikan pesan dan nasihat adalah melalui kisah. Al-Qur`an membawakan banyak sekali kisah, baik berkenaan dengan perjalanan para Nabi dan Rasul juga berbagai peristiwa yang terjadi antara mereka dengan orang-orang yang beriman maupun orang-orang yang kafir. Ataupun kisah-kisah keluarga, seperti kisah keluarga imran yang bisa kita jadikan sebagai teladan dalam mendidik anak dan keluarga walaupun beliau bukan dari kalangan nabi dan Rasul.
Adapula kisah Maryam, Luqman, Nabi Musa, Firaun, pemuda al-Kahfi, tentara gajah dan kisah-kisah lainnya. Benar kiranya apabila kisah-kisah dalam al-Qur’an itu sarat dengan pesan dan nasihat. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman [Yûsuf/12:111]
Siapa saja yang meyakini bahwa semua kisah-kisah dalam al-Qur`an dan yang disampaikan Rasulullah SAW adalah benar dan nyata, maka insya Allah, kisah-kisah itu akan memberikan pengaruh besar pada perbaikan dan pembinaan diri dan keluarga.
Nah, ternyata konsep membaca itu sudah lebih dulu dimiliki oleh Islam. Sesungguhnya Allah SWT hendak menyelamatkan manusia dari kegelapan (jahiliyah) menuju cahaya (islam). Lalu mengapakah kita masih begitu terpesona dengan beragam konsep pendidikan atau bahkan konsep hidup yang ditawarkan oleh selain Islam? Wallahua’lam bish shawab. []
OPINI ini adalah kiriman pembaca Islampos. Kirim OPINI Anda lewat imel ke: redaksi@islampos.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri. Isi dari OPINI di luar tanggung jawab redaksi Islampos.