Oleh: Daud Farma
ulviyeturk94@gmail.com
BERSYUKURLAH, Allah, masih menutupi aibmu. Berterimakasihlah, kepada orang yang masih merahasiakan aibmu. Sungguh, kalau saja aib itu dipublikasikan oleh, Allah, dan disebarkan oleh orang yang menyimpan aibmu, kau adalah orang yang teramat hina di mata orang lain.
Mungkin, dengan melihatmu sekilas dari luarmu, penampilanmu, orang akan menilaimu dengan poin yang positif, sedangkan mereka tidak tahu bahwa aibmu begitu besar.
Berterimakasihlah, selagi ada yang mengingatkanmu ketika kamu khilaf, lupa dan salah. Apa jadinya kalau tidak ada yang mengingatkan? Mungkin, akal sehatmu sudah tak terkontrol dengan baik.
Hari ini, esok, nanti dan seterusnya adalah memperbaiki kesalahan yang lampau, memperbaiki diri dengan berbuat baik dan memohon ampun kepada-Nya, sungguh Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang. Menerima taubat hamba-Nya.
Cukup, kesalahan yang lalu adalah pelajaran untuk lebih hati-hati lagi ke depannya.
Semoga Allah menutupi aib-aib kita, semoga mereka yang merahasiakan aib kita, tetap merahasiakannya.
Kaca yang berdebu, kalau setiap hari dilap, maka akan terus bening. Dan kesalahan yang terus ditebus dengan taubat, insyaAllah akan lebih menjadi pribadi yang baik. Namun, apabila kaca terus dibiarkan berdebu, maka takkan pernah bening adanya.
Di mata orang lain, seribu kebaikan yang besar akan sirna dengan satu kesalahan, walaupun itu adalah kesalahan yang kecil. Apalagi kesalahan yang besar? Dan kebaikan yang pernah ada, tidak ada nilainya lagi dengan adanya kesalahan itu. []