KEMENANGAN Shalahuddin Al-Ayyubi di Hittin
Setelah Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi mampu menguasai wilayah kerajaan yang luas mencakup utara Iraq, Mesir, Syria dan Barqah ia melakukan persiapan untuk memerangi orang-orang Frank dan membebaskan Jerusalem dari tangan mereka dan negeri-negeri lain. Ia menanti kesempatan yang tepat dan untuk memberikan pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupakan atas kejahatan-kejahatan mereka yang telah mereka lakukan di Jerusalem dan masjid Al-Aqsha.
Dimulai dari pelanggaran perjanjian damai yang dilakukan oleh Reginal de Cathillon, raja Karak, wilayah di antara Mesir dan Syria, yang mengganggu kafilah Muslim. Padahal dalam perjanjian itu diizinkan kafilah-kafilah Muslim bergerak dari Mesir ke Syria, atau sebaliknya.
Raja Karak menyita harta benda dan menawan para kafilah Muslim. Juga ia melecehkan nabi Muhammad Saw dengan mengatakan, “Kalau kalian mempercayai Muhammad, sekarang panggil dia untuk membebaskan kalian dan menyelamatkan kalian yang tertawan dan menyelamatkan kalian dari keburukan yang menimpa kalian.” Informasi ini sampai kepada Shalahuddin. Ia menjadi gusar dan bersumpah akan melawan mereka.
BACA JUGA: Muhammad Al-Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel yang Kuasai 6 Bahasa
Serangan orang-orang Frank ini sebagai pemicu untuk perang selanjutnya yang dilakukan Shalahuddin Al-Ayyubi untuk melawan pasukan Salib agar mereka merasakan siksaan dan kebinasaan.

Pertama kali ia melakukan persiapan dan mengumpulkan pasukan. Ketika itu adalah waktunya para jemaah haji Muslim pulang dari Makkah. Penguasa Karak bersiap-siap untuk memburu dan menyerang para jamaah haji. Sementara Shalahudidin juga bersiap-siap untuk melindungi para jamaah haji dari serangan mereka dan ia mengobarkan semangat jihad di seluruh negeri. Ia berkemah di Qasr As-Salamah dekat Busra. Ia tetap berada di sana hingga jamaah haji pulang dengan selamat.
Setelah persiapan itu ia bermusyawarah untuk melakukan serangan terhadap musuh, yang waktunya ditetapkan setelah shalat Jum’at pada 17 Rabi’ul Akhir 583 H dengan takbir dan doa.
Shalahuddin Al-Ayyubi bergerak dari Damaskus sampai di Ra’s al-Maa’ dan menjadikan tempat itu sebagai markas pasukannya. Putranya Al-Malik Al-Afdhal tetap di sana. Ia kemudian melanjutkan perjalanan ke Busra, ke benteng Karak dan Syaubak, lalu ke Tiberias.
Pasukan Salib memastikan adanya rencana Shalahuddin untuk melawan mereka. Para pemimpin mereka menyiapkan pasukan dan bergerak ke Tiberias. Dua pasukan itu bertemu di tempat bernama Hittin. Waktu subuh telah berlalu. Matahari mulai bersinar. Pasukan Muslim menguasai sumber air. Pasukan Muslim menyerang tentara yang sedang kehausan. Shalahuddin menyerang orang-orang Frank dengan sengit dan memisahkan pasukan kuda dengan pejalan kaki, serta ia mampu mendesak mereka ke bukit Hittin. Mereka ada yang terbunuh dan tertawan. Shalahuddin mendapat kemenangan.
Raja Karak ditangkap dan ia dieksekusi karena perbuatannya yang melampau batas. Sementara terhadap Raja Guy Shalahuddin memerintahkan pasukannya untuk mengembalikan raja itu ke Damaskus dengan penuh penghormatan.
Setelah kemenangan itu Shalahuddin terus bergerak Acre, dan ia membebaskan kota-kota lain, Tabnain, Sidon, Jubail, dan Beirut. Lalu ia menguasai Ramlah, Ad-Darum, Gaza, Bethlelem, dan An-Natrum, dan selanjutnya ia menuju Jerusalem. “Sultan Shalahuddin ingin memasuki Jerusalem dengan tidak menimpakan keburukan dan menimbulkan kerusakan. Dia memilih masuk kota Jerusalem dengan damai tanpa mengerahkan kekuatan pasukannya yang banyak. Sebab, hal itu bisa menghancurkan bangunan-bangunannya dan mencemari kesuciannya. Sepertinya ia ingin mengulang perjalanan hidup khalifah Umar bin Khattab ra dalam penaklukan kota ini untuk kedua kalinya. “
Ia mengirim utusan kepada penduduk Jerusalem untuk menyerahkan kota itu dan ia menentukan beberapa syarat, tapi orang-orang Frank menolak, akhirnya terjadi pertempuran. Belum berlalu sepekan berperang akhirnya orang Frank menyerah dan mereka menerima syarat Shalahuddin, di antaranya: 1) mereka dipersilahkan meninggalkan Jerusalem dalam tempo 40 hari; 2) laki-laki menebus dirinya 10 dinar, perempuan 5 dinar dan anak-anak 2 dinar; 3) yang tidak mampu menebus dirinya menjadi tawanan.
Sultan Shalahuddin mendatangkan Muhyiddin bin Az-Zaki untuk menjadi khatib Jerusalem pada hari Jum’at yang agung di masjid Al-Aqsha, setelah sebelumnya tidak pernah digunakan shalat di dalamnya karena dalam jajahan orang-orang Frank. Banyaknya jamaah shalat penuh berkah dan rasa syukur di hati kaum Muslim.
Terhadap kaum lemah karena rasa kasih sayangnya Shalahuddin memperlakukan mereka dengan toleran. Ia malah mengeluarkan harta pribadi untuk menolong mereka dan memberikan kendaraan tunggangan kepada mereka yang membawa beban berat.

Ada seorang patriak membawa harta yang banyak, tapi ia tidak menyitanya. Ia hanya menerima 10 dinar. Ada orang-orang bertanya, mengapa ia tidak menyitanya saja. Ia jawab, ia cukup ambil 10 dinar dan tidak mau mengkhianatinya.
Shalahuddin berperang dengan pasukan Salib hingga perang Salib III yang diikuti Jerman, Prancis dan Inggris, yang memaksa raja Richard si hati singa berdamai dengan Shalahuddin.
Akhir Hayat Shalahuddin Al-Ayyubi
Setelah perang usai Shalahuddin mengatur wilayah Jerusalem, ia memerintahkan membuka madrasah-madrasah, mendirikan rumah sakit, dan menata administrasi. Ia kembali ke Damaskus, mengatur urusan kenegaraan, mendistribusikan harta kepada yang berhak, dan mengizinkan para tentara mengunjungi negeri-negeri mereka, serta ia mendengar berbagai keluhan penduduk untuk menyebarkan keadilan.
BACA JUGA: Shalahuddin Al-Ayyubi dan Bayi Rampasan
Ia menyambut jamaah haji yang kembali dari menunaikan ibadah haji dari Makkah. Pertemuan itu mengharukannya, sehingga ia menangis. Ia berkeinginan menunaikan haji, tapi kondisi tidak memungkinkannya. Dan setelah ia menyambut para jamaah haji kesehatannya semakin menurun. Tabib didatangkan. Setelah beberapa hari dirawat belum juga ada tanda-tanda kesembuhan. Ia minta sesorang membaca Al-Qur’an di dekatnya. Lalu ia meninggal pada 27 Safar 589 H/ 4 Maret 1193 M, setelah shalat subuh.
Kematiannya menjadi guncangan dan musibah besar bagi kaum Muslim. Al-Qadhi Ibnu Syaddad menyaksikan, kesedihan pada orang-orang saat itu. []
Cibinong, 23-8-2023 | Sumber: Dr. Abdullah Nashih Ulwan, 2017; Tamim Ansary, 2018
HABIS | SUMBER: LUAYDPK